Banyak trader yakin bahwa setelah memiliki pengetahuan tentang Forex dan Cara-cara menganalisa berita pasar ataupun chart, maka yang bersangkutan bisa meramal pergerakan suatu mata uang. Oleh karena itu banyak trader mangambil keputusan membeli atau menjual suatu mata uang hanya berdasarkan sekelumit berita yang diketahui.
Kenyataan banyak dijumpai trader-trader yang pada saat pelatihan atau paper trading mampu membuat prestasi yang baik tetapi setelah turun ke pasar, Hasil trading berakhir dengan kerugian. Relatif hanya sebagian kecil dari trader yang mampu membuat keuntungan secara konsisten dari tahun ke tahun.
Karena para trader beroperasi pada pasar yang sama dimana kelompok yang satu selalu menderita rugi sementara kelompok lain secara konsisten memperoleh laba, maka dapat disimpulkan bahwa penyebabnya bukanlah semata-mata karena kondisi pasar melainkan ada pada trader-trader tersebut.
Ada pendapat bahwa mengerti cara mengalisa pasar secara benar hanya merupakan sebagian dari strategi dalam membuat keuntungan. Banyak trader mengharap apabila ia bisa menganalisa pasar secara baik , maka mereka yakin dapat memperoleh keuntungan dari trading. Kenyataannya, keyakinan tersebut sama sekali berbeda dari yang diharapkan.
Faktor yang sangat mempengaruhi seorang trader dalam mendapatkan keuntungan trading sangat ditentukan oleh psikologis dari trader tersebut. Sifat tidak sabar, serakah, takut, panik, tidak disiplin dan perasaan seperti kecewa, frustrasi akan mewarnai pola trading seseorang yang pada gilirannya akan menentukan hasil rugi atau laba.
Karena itu sering kita mendengar suatu istilah “ trader is born and not made “. Istilah tersebut tidak seluruhnya tepat tetapi ada unsur kebenarannya.
Rugi dalam trading memang merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan namun semua trader mau tidak mau harus menghadapi dan menerima kenyataan.
Pada dasarnya kerugian dalam trading dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu kerugian karena kesalahan analisa/pandangan terhadap pasar sedangkan kelompok lain adalah disebabkan karena pola trading dan pribadi dari trader tersebut seperti terlalu yakin atas pendapatnya, overtrading, transaksi karena perusahaan mengalami kerugian yang besar, membiarkan rugi berlarut-larut, menyalahkan pasar, tidak mempunyai stop loss dan profit taking objective, semata-mata mengandalkan feeling, mengambil keuntungan sedikit sementara kerugian umumnya lebih besar, dan sebagainya.
Sebelum melakukan transaksi di Foreign Exchange Market, dibutuhkan persiapan dan perencanaan yang matang untuk menghindari terjadinya resiko yang mungkin terjadi.
Persiapan-persiapan tersebut dituangkan dalam bentuk trading plan yang berdasarkan atas analisa market yang dibuat sebelumnya, yang berisikan :
1. Entry level (Level disaat open posisi)
2. Exit level (Level likuidasi posisi)
3. Maksimum resiko (Stop loss level)
4. Target level (Target profit)
Selain itu dibutuhkan beberapa teknik dasar dalam melakukan transaksi diantaranya :
A. Stop loss dan trial stop
Menutup (melikuidasi) posisi pada level kerugian maksimum yang dapat diterima, jika market bergerak berlawanan dengan posisi yang diambil. Batas kerugian maksimum ditentukan setelah melakukan analisa teknikal dan analisa fundamental.
Berdasarkan defenisi di atas, penempatan stop loss ditentukan berdasarkan dua jenis kriteria dasar yaitu :
Pertama: Berdasarkan pertimbangan besarnya jumlah maksimum yang bersedia diterima oleh pelaku transaksi, setiap melakukan transaksi.
Kedua: Berdasarkan pertimbangan analis teknis, yaitu selalu menempatkan stop loss LONG dibawah level support dan stop loss SHORT di atas level resistance.
B. Hedging / Locking Position Technique
Melakukan perlindungan resiko transaksi atau membatasi kerugian transaksi dengan mengunci posisi transaksi yaitu dengan membuat posisi transaksi baru yang berlawanan dengan posisi transaksi semula.
C. Averaging Profit dan Averaging Loss Technique
Prinsip dasar dari teknik averaging position adalah tetap mempertahankan posisi transaksi yang telah ada, bahkan menambah posisi baru yang searah dengan posisi awal setiap kali harga mendekati atau menembus level support atau resistance selama target transaksi belum tercapai.
Melakukan transaksi dengan berdasarkan teknik averaging loss memiliki resiko yang sangat tinggi, oleh karenanya teknik ini tidak pernah direkomendasikan sebagai pilihan strategi oleh para trader berpengalaman.
D. Cut and Reserve Technique (Switching Technique)
Prinsip dasar dari switching technique adalah melakukan perubahan pada arah posisi transaksi secara drastis (Reserve position). Apabila posisi transaksi awal mengalami kerugian (salah arah). Dalam kondisi demikian pelaku transaksi akan melakukan cut loss (melikuidasi posisi awal) dan langsung membuka posisi transaksi baru yang berlawanan arah dengan posisi transaksi awal tersebut.
E. Double Cover Technique
Yaitu mengambil posisi dengan jumlah lot dua kali lebih besar dari posisi tansaksi awal. Teknik ini dilakukan agar gain profit menjadi duakali lebih besar. Teknik ini mirip dengan average, hanya saja dengan average lot yang dua kali lebih besar.
PERINGATAN: semua teknik diatas tidak akan melepaskan anda dari resiko kerugian!